Hukum Pemilu Legislatif dan Presiden

HUKUM PEMILU LEGISLATIF & PRESIDEN

9 April mendatang, negeri ini akan menyelenggarakan sebuah event besar berskala nasional: Pemilu.

Insya Allah tulisan ini akan mencoba memberi gambaran pada pembacanya, untuk dapat menentukan sikap secara jelas pada pemilu nanti.

Akan ada 2 pemilu yg akan diselenggarakan nanti:

1. Pemilu Legislatif, yakni memilih anggota2 DPR & DPD(9 April 2009)

2. Pemilu Pres & Wapres(8 Juli 2009)

Nah, untuk anggota legislatif(MPR, DPR, DPD) sendiri dapat disimpulkan, ada 3 buah tugas pokok yang harus mereka kerjakan:

1. Fungsi legislasi untuk membuat UUD dan UU.

2. Melantik Presiden & Wakil Presiden.

3. Fungsi pengawasan, atau koreksi dan kontrol terhadap pemerintah.

Sedangkan tugas presiden secara umum adalah melaksanakan UUD, menjalankan segala UU & peraturan yang dibuat.

Berdasarkan hal ini, hukum terhadap pemilu di Indonesia dapat dibagi mejadi 2: yaitu, PEMILU LEGISLATIF & PEMILU PRESIDEN.

Pemilu legislatif pada dasarnya bisa disamakan dengan hukum wakalah(perwakilan), yang hukum asalnya adalah mubah. Berdasarkan hadits Nabi:

Dari jabir bin Abdillah radiyallahu anhuma, dia berkata: Aku hendak berangkat ke khaibar, lantas aku menemui Nabi SAW. Seraya beliau bersabda: “Jika engkau menemui wakilku di Khaibar maka ambillah olehmu darinya lima belas wasaq“.[H.R Abu Dawud yang menurutnya shahih].

Hadits ini menunjukkan bahwa hukum asal wakalah adalah mubah, selama rukun-rukunnya sesuai syariah Islam. Rukun wakalah terdiri dari:

– Dua pihak yg berakad

– perkara yang diwakilkan

– redaksi akad perwakilannya(sighat taukil).

Bila semua rukun terpenuhi, maka yang menentukan wakalah itu Islami/tidak adalah perkara apa yang diwakilkan tersebut?

Setiap muslim yang beriman kepada Allah SWT, wajib menjadikan hukum Allah sebagai aturan di setiap aspek kehidupan.

Karena memang hanya Allah yang berhak membuat hukum, bukan manusia.

Keputusan(hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah.” [Yusuf: 40].

Karena itu, menetapkan hukum yang tidak bersumber dari Al-Qur’an & As-Sunnah adalah perbuatan yang bertentangan dengan akidah Islam.

Dengan demikian, jika melihat 3 fungsi legislatif yang ada di atas, wakalah dalam fungsi legislasi yang akan membuat sumber hukum baru (yaitu UU dan UUD) jelas merupakan hal yang bertentangan dengan akidah Islam, dimana hak membuat hukum hanya milik Allah(hukum tersebut yakni Al-Qur’an). Sehingga sudah jelaslah aktivitas ini merupakan aktivitas yang tidak dperbolehkan dalam Islam.

Wakalah(perwakilan) untuk melantik presiden/wakil presiden juga tidak diperbolehkan, sebab menjalankan sistem dan hukum yang bertentangan dengan Islam adalah haram. Sehingga aktivitas yang akan mewujudkan pemimpin yang menjalankan sistem dan hukum kufur, yakni melantiknya juga perbuatan yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Larangan ini berdasar pada kaidah syara’:

Wasilah(perantaraan) yang pasti menghantarkan kepada perbuatan haram adalah juga haram.

Sedangkan wakalah dalam konteks pengawasan, koreksi & kontrol terhadap pemerintah adalah perkara yang dibenarkan oleh syariah Islam. Namun tidak sepenuhnya mutlak, akan tetapi harus memenuhi syarat-syarat:

1. Harus menjadi calon dari partai Islam, bukan dari partai sekuler. Dan dalam proses pemilihan tidak menempuh cara-cara haram seperti penipuan, pemalsuan dan penyuapan, serta tidak bersekutu dengan orang-orang sekuler.

2. Harus menyuarakan secara terbuka tujuan dari pencalonan itu, yaitu untuk menegakkan sistem Islam, mengubah sistem sekuler menjadi sistem Islam, melawan dominasi asing dan membebaskan negeri ini dari pengaruh asing. Dengan kata lain, calon wakil rakyat itu menjadikan parlemen sebagai mimbar(sarana) dakwah Islam, yakni menegakkan sistem Islam, menghentikan sistem sekuler dan mengoreksi penguasa.

3. Dalam kampanye-nya harus menyampaikan ide-ide dan program-program yang bersumber dari ajaran Islam.

4. Harus konsisten melaksanakan poin-poin di atas.

***

Berkaitan dengan pemilu presiden, hukum pemilu presiden tidak dapat disamakan dengan pemilu legislatif. Karena status presiden dan wapres bukanlah wakil rakyat. Akan

tetapi lebih tepat jika dikaitkan dengan statusnya sebagai kepala negara(nashb al-ra’is), yang hukumnya terkait pada 2 hal: PERSON & SISTEM.

Terkait dengan person, Islam menetapkan bahwa seorang kepala negara harus memenuhi syarat-syarat in’iqad, yaitu sejumlah keadaan yang akan menentukan sah atau tidaknya seseorang menjadi kepala negara. Syarat-syarat itu adalah:

1. Muslim

2. Baligh

3. Berakal

4. Laki-laki

5. Merdeka

6. Adil atau tidak fasik

7. Mampu melaksanakan tugas & tanggung jawabnya sebagai kepala negara.

Tidak terpenuhinya salah satu saja dari syarat-syarat di atas, cukup membuat pengangkatan seseeorang sebagai kepala negara menjadi tidak sah.

Adapun tentang sistem, ditegaskan bahwa siapapun yang terpilih sebagai kepala negara, wajib baginya untuk menerapkan dan menjalankan sistem Islam. Tidak ada pilihan lain baginya. Sistem Islam harus menjadi obligasi(kewajiban), bukan pilihan(opsi) baginya.

Hal ini memang konsekuensi dari akidah Islam, yakni menjalankan apa yg dturunkan oleh Allah sebagai aturan yg mengatur sluruh aspek khidupan.

Maka TIDAK BOLEH hukumnya bagi seorang muslim MEMILIH pemimpin yang akan menerapkan hukum selain Islam.

Allah telah menegaskan, siapa saja yg menerapkan hukum selain Islam dapat dikategorikan: Fasik, Dzalim, bahkan jika secra i’tiqadi dengan tegas menolak syariah Islam untuk mengatur kehidupan, bisa dikategorikan sebagai kafir.

Dan siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.[Al-Maidah: 44]

Dan siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang dzalim.“[Al-Maidah: 45]

Dan siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik.“[Al-Maidah: 47]

Maka, sikap yang semestinya harus ditunjukkan oleh setiap muslim selama menghadapi pemilu ini adalah:

1. Tidak memilih calon yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan di atas. Tidak mendukung usahanya, termasuk tidak mendukung kampanyenya dan mengucapkan selamat saat yang bersangkutan memenangkan pemilihan.

2. Melaksanakn syariat Islam secara utuh dan menyeluruh dengan konsisten. Serta berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mengubah sistem sekuler ini menjadi sistem Islam melalui perjuangan yang dilakukan sesuai dengan metode dakwah Rasulullah SAW mlalui pergulatan pemikiran dan perjuangan politik. Perjuangnnya itu diwujudkan dengan mendukung individu, kelompok, jamaah dan partai politik yang secara nyata & konsisten berjuang demi tegaknya syariah & khilafah. Serta sebaliknya menjauhi individu, kelompok, jamaah, dan partai politik yang justru Berjuang untuk mengokohkan sistem sekuler.

3. Secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melakukan kritik dan koreksi terhadap para penguasa atas setiap aktivitas dan kebijakan mereka yang bertentangan dengan syariah Islam. Tidak terpengaruh propaganda yang menyatakan bahwa mengubah sistem sekuler dan mewujudkan sistem Islam mustahil dilakukan.

4. Memilih kepala negara yang mampu menjamin negeri ini tetap independen (merdeka) dari cengkraman penjajah, dengan kata lain memilih kepala negara yang mampu mewujudkan kemerdekaan sesungguhnya, bukan malah sebaliknya, membiarkan negeri ini dalam cengkeraman & dominasi kekuatan asing disegala bidang.

Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum muslim.” [An-Nisa: 141].

Akhirnya, semua pilihan kembali ada ditangan anda.

Yang semua tentu akan dminta pertanggung jawabannya kelak.

Apakah anda akan tetap memilih pemimpin yang secara nyata akan menerapkan sistem kufur yang ada ini?

Ataukah bersama-sama berjuang menegakkan sistem Islam dimuka bumi Indonesia ini, sebagai aturan disegala aspek kehidupan?

Tulisan ini saya ringkas dari sebuah artikel, mohon bagi yang sudah membaca tulisan ini, saya minta alamat e-mailnya..supaya saya bisa mengirimkan artikel lengkapnya..

Dan tolong forward kepada orang-orang yang anda kenal.

semoga usaha kita untuk menyadarkan umat mendapat balasan setimpal dari Allah SWT.

Amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: