Aku Juga Ingin Makan Nasi

Amda, lekas siap-siap.. kita berangkat bareng ke TPS..” Bujuk mamahku.

Enggak mah.. ulun di rumah aja, lagian ada yang harus digawi(dikerjakan)..” Jawabku santai sambil lihat berita di TV.

Kamu ini kenapa nak, kamu tinggal di negara ini tapi enggak mau peduli dengan masa depan negara ini?” Tanya mamahku sambil mendekatiku yang sedang nonton TV.

Lho, khan kemaren kemaren udah kita bicarakan kenapa ulun mengambil keputusan ini mah? Terus kemaren enggak ada komplain lagi tho dari mamah?” Aku memberi penjelasan.

Tapi kali ini mamah sama papah enggak enak le sama panitianya.. Soalnya waktu pemilu legislatif kemaren kita sekeluarga juga enggak datang..” Kata mamahku tetap membujuk.

Yaa.. kalo mamah sama papah tetap mau kesana, ulun mau gimana lagi? Yang jelas ulun enggak akan kesana dan ulun sudah coba memberitau mamah..”

***

Dialog diatas adalah sebuah realita yang boleh jadi tidak hanya terjadi pada saya. Mungkin di tempat lain, juga banyak kaum muda yang mulai mencoba openmind terhadap permasalahan negeri ini dan apatis terhadap sistem demokrasi yang telah lama diterapkan. Mereka mulai merasa toh tak ada gunanya suara yang mereka berikan. Mereka bosan dengan janji kosong sistem ini yang terus saja menawarkan ilusi kesejahteraan. Mereka mulai coba berfikir kritis untuk membuang langkah lama yang terbukti telah gagal berulang kali ini. Mereka mulai berani mencoba terobosan dan langkah-langkah baru untuk membawa perubahan hakiki bagi negeri yang mereka cintai ini. Sayang, fikiran kritis mereka seringkali terbentur oleh sebuah tradisi unik : ”Yang tua pasti selalu pihak yang benar. Yang muda selalu berada pada pihak yang salah.”. Sebuah argumen logis dari sang anak yang dibangun dengan kuat dan masuk akal-pun seringkali gugur dengan mudahnya dihadapan tradisi ini. Akhirnya, bibit sang revolusioner-revolusioner muda inipun harus di”paksa” untuk kembali pada metode berfikir lama : Pasrah Terhadap Keadaan. Sebab Keadaan ini Tak Mungkin Di Ubah !

MEREKA YANG COBA BERKONSTRIBUSI UNTUK PERUBAHAN

Seorang laki-laki, umur sekitar 20-an yang baru selesai ”nyontreng” ditanya oleh wartawati dari sebuah stasiun televisi swasta besar di negeri ini ; ”Apa harapan mas dengan ikut berpartisipasi dalam pemilu presiden kali ini?” Tanya sang wartawati. ”Emm.. Apa ya? Hmm..” Jawab sang pemuda yang akhirnya dilanjutkan dengan arahan dari sang wartawati agar si pemuda berkata: YA, SEMOGA SAJA PEMIMPIN YANG TERPILIH KALI INI BISA MEMBAWA PERUBAHAN YANG LEBIH BAIK.

Selalu, dan selalu saja. Rakyat negeri ini digiring untuk terus terpaku pada satu konsep berfikir : SISTEM NEGERI INI TIDAK SALAH. Mereka selalu digiring untuk cuek dan tidak peduli pada permasalahan yang sebenarnya. Mereka selalu digiring untuk berfikir simple : KALO INGIN BERUBAH, YA TINGGAL GANTI PEMIMPIN. Sebab mereka selalu dihadapkan pada doktrin-doktrin palsu bahwa : KEADAAN NEGERI INI TIDAK MUNGKIN DIRUBAH. Akibatnya permasalahan mendasar yang membuat negeri ini terus dilanda kesulitan demi kesulitan seolah tidak mau mereka pedulikan :

Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” [T.Q.S Thahaa : 124]

Sejak berdiri, hingga sekarang, negeri ini telah membuang aturan Allah untuk mengatur kehidupan. Justru hukum serta sistem kehidupan buatan manusia yang penuh kelemahan yang diterapkan. Dan benarlah, peringatan Allah bagi kaum yang membuang aturan-Nya akan memperoleh kehidupan yang sempit kini terbukti. BOHONG kalau ada yang bilang negeri ini kini hidup dengan sejahtera !

Memasuki akhir masa kepemimpinan SBY-JK—utang Indonesia sudah mencapai 2.335,8 miliar dolar.

Konsekuensinya, cicilan utang yang harus dibayar Indonesia tahun 2009 adalah sebesar 22 miliar dolar, sama dengan Rp 250 triliun. Cicilan utang Pemerintah 9 miliar dolar dan cicilan utang swasta 13 miliar dolar. Di antara utang Pemerintah itu, uang luar negeri yang jatuh tempo pada 2009 senilai Rp 59 triliun.

Cicilan tahun 2009 sebesar itu, kalau kita bagi dengan jumlah penduduk Indonesia (± 230 juta jiwa), sama dengan Rp 1.086.000/jiwa. Jumlah ini masih lebih besar dibandingkan dengan UMR DKI Jakarta sebesar Rp 1.069.865. Kemudian, andai Indonesia mau melunasi seluruh utangnya, maka penduduk negeri ini masing-masing harus membayar Rp 106 juta perkepala! (Kompas, 24/11/2008).

Bandingkan dengan sedikit gambaran kesejahteraan dalam kacamata khilafah :

Dalam 1 tahun Khalifah Umar membelanjakan 30 juta dinar emas (lebih dari Rp 33 triliun) untuk gaji dan tunjangan bagi penduduk Madinah.

Anak umur 1 tahun dapat 100 dirham (Rp 1 juta)

Anak lebih 1 tahun dapat 200 dirham (Rp 2 juta)

Anak-anak dapat 300 dirham (Rp 3 juta)

Janda Rasulullah 12.000 dirham (Rp 117,3 juta)

Guru TK dasar 15 dinar/bulan (Sekitar Rp 16,5 juta)

Dan, ketiga pasangan kandidat capres-cawapres telah sangat tegas menyatakan : Mereka akan tetap mempertahankan sistem kapitalisme beserta demokrasinya sebagai pegangan dalam memerintah. Dengan kata lain, sistem rusak yang menjadi biang utama krisis negeri ini tetap akan dipertahankan. Dan lagi-lagi Islam akan dibuang. SIAPAPUN YANG TERPILIH.

Pertanyaannya, jika masalah utama adalah terkait dengan SISTEM KAPITALISME yang diterapkan, dan pemilu hanya sarana untuk merubah pemimpin TANPA merubah sistem, lalu apa yang diharapkan dengan pemilu ini ?

Menarik pernyataan dari seorang sahabat, yang berkilah dengan menyatakan ”pemerintah telah menghabiskan dana banyak untuk pemilu ini.. masa harus disia-siakan dengan tidak berpartisipasi?”.

Ya, inilah demokrasi. Ia mahal dan tak memberi hasil. Bisa anda hitung sendiri berapa biaya yang telah keluar untuk menggelar ”pesta” ini. Dan berapa JUTA rakyat yang telah menjadi korban atas ”pesta” ini. Anda mungkin tidak pernah menjadi orang miskin, hingga dengan mudahnya berkata ”sia-sia” jika kita tidak berpartisipasi. Anda mungkin belum pernah menjadi orang miskin hingga dengan mudahnya meremehkan dana yang telah terkucur untuk proses demokrasi yang rusak ini dibanding pengorbanan harta dan nyawa rakyat negeri ini atas kesulitan hidup yang mereka hadapi. Anda mungkin belum pernah menjadi orang miskin, hingga dengan mudahnya ingin melanjutkan sistem yang menyengsarakan ini padahal telah banyak rakyat miskin yang telah bosan dan menanti perubahan.

SEBUAH PEMBELAAN

Tidak memilih adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan akan kesadaran bahwa pemilu hanya melahirkan pergantian pemimpin. Jika masalah utama terletak pada sistem yang diterapkan, dan berpartisipasi adalah wujud konstribusi melanggengkan sistem itu, bagaimana mungkin anda dengan mudahnya mengatakan tidak memilih adalah sikap yang tidak bertanggung jawab pada negara ini?

Tidak memilih juga merupakan perwujudan akan tanggung jawab terhadap Allah terkait haramnya memilih pemimpin yang akan menerapkan hukum selain Islam. Sehingga bagaimana mungkin ini disebut pengecut?

Sebuah pernyataan aneh jika ada yang berkata :

INDONESIA BUKAN NEGARA ISLAM ! KALO TIDAK SUKA, SILAKAN KELUAR DARI INDONESIA !”

Mengutip kata-kata Pak Ismail Yusanto, ”Bumi, Alam semesta dan seluruh isinya adalah ciptaan Allah. ISLAM dan SYARIAH-Nya adalah kewajiban yang telah dibebankan Allah untuk diterapkan.. Jika Anda MENOLAK Islam untuk diterapkan, SILAKAN KELUAR DARI BUMI DAN CARI TEMPAT TINGGAL SENDIRI !” (Dikutip dengan beberapa perubahan)

Yaaa.. tanggapan ini juga akan dikembalikan pada mereka yang menolak dengan menggunakan analogi konyol ini sebagai argumen. He he..

***

Membuang sistem rusak ini dan menerapkan sistem serta ideologi dari Sang Pencipta adalah jalan keluar bagi negeri ini. Meremehkan dan menolak jalan ini sebagai solusi untuk Indonesia, adalah sebuah pertanyaan : Seriuskah mereka membela dan membawa negerinya pada keadaan yang lebih baik?

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki ? dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” [T.Q.S Al-Maidah : 50]

apa jawabnya kalau begitu?

(Muhammad Amda Magyasa)

NB : Yaah.. biar begitu tetep disuruh ikut, bareng-bareng ke TPS. Tapi disuruh beli gula dulu kewarung. Eee.. di tengah jalan ban kendaraan bocor kena paku.. ke tukang tambal ban dulu n malah ga jadi ke TPS coz ortu ga mau nungguin.. Nasib.. Nasib..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: