Islam dan Non-Muslim

“Syariah cuma milik umat Islam”. “Syariah hanya akan membuat non-muslim terzalimi dan terasing”. “Syariah akan mengadu domba antara muslim dengan non-muslim”. “Syariah akan memecah belah kesatuan dalam hidup antar agama”.

Kata-kata diatas adalah sebuah pernyataan yang seringkali digunakan individu-individu ataupun sekelompok gerakan tertentu untuk menolak, atau paling tidak “meragukan” Islam untuk diterapkan. Mirisnya lagi, pernyataan ini juga seringkali terlontar dari mulut seorang muslim yang semestinya tidak pada tempatnya ia meragukan apalagi menolak aturan Islam untuk diterapkan. Akibatnya, tidak jarang, meski solusi yang ditawarkan Islam untuk mengatasi masalah negeri ini sungguh sangat sangat menjanjikan, mereka tetap bersikukuh menolak Islam dengan argumen-argumen di atas.

KONTRADIKSI HAM DAN OMONG KOSONG DEMOKRASI

Ide HAM adalah sebuah pemikiran yang lahir dari ideologi kapitalisme dan anak cucunya : demokrasi. Sebuah ideologi dan cara pandang yang muncul dari asas sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan dunia). Sehingga tak aneh, HAM atau yang identik dengan kebebasan individu tidaklah pernah menggunakan kaidah-kaidah Islam, baik halal atau haram dalam konteks kebebasan yang digunakannya.

Ide HAM adalah salah satu topik yang seringkali pula digunakan oleh mereka yang menolak penerapan syariah. Dengan berargumen bahwa syariah akan memojokkan dan men-diskreditkan non muslim dari kancah kehidupan bermasyarakat, HAM selalu menjadi senjata utama yang mereka gunakan untuk menyerang Islam dan penerapannya.

Setidaknya ada 4 buah ide dasar dalam HAM :
1. Kebebasan Beragama
2. Kebebasan Berpendapat
3. Kebebasan Kepemilikan
4. Kebebasan Berekspresi atau Bertingkah-laku

Jika mau lebih jernih dan objektif dalam menilai tentang HAM, anda akan menemukan bahwa ide ini sesungguhnya adalah ide yang rancu, tidak punya standar atau patokan dalam menilai kebenaran dan selalu condong mendis-kreditkan salah satu pihak dan menjadi alat pembenaran bagi pihak yang lain. Dan lebih penting lagi, anda akan menemukan bahwa ide ini semata-mata dirancang dan ditanamkan dalam benak kaum muslim hanya untuk menjauhkan mereka dari ajaran agamanya yang haq !

Ambil contoh, poin pertama : Yakni kebebasan beragama. Saya pernah membaca sebuah fakta yang cukup unik tentang kebebasan beragama dalam kacamata HAM. Apakah yang dimaksud kebebasan beragama dalam HAM adalah ”setiap manusia bebas untuk MEMELUK AGAMA APAPUN BAHKAN TIDAK BERAGAMA ?” ataukah yang dimaksud kebebasan beragama adalah ”Si pemeluk agama BEBAS menjalankan apapun ajaran agamanya?”

Jika yang dimaksud adalah definisi pertama, toh nyatanya di setiap negara penganut HAM, semua memilik batasan-batasan serta ajaran apa saja yang diakui boleh ada di negaranya. Bahkan di negara liberal sekalipun. Misal Amerika, negara yang sangat mengagung-agungkan HAM, sebuah sekte yang mengajak pengikutnya untuk bunuh diri beramai-ramai, tidak dibenarkan untuk eksis. Di Indonesia juga begitu, hanya ada 5 agama + Konghucu yang dibenarkan untuk eksis. Artinya, definisi pertama ini telah nyata tereliminasi sebagai definisi kebebasan beragama dalam HAM. Sebab, nyatanya beragama tetaplah punya batasan. Tidak bebas sama sekali.

Lalu jika yang dimaksud adalah definisi kedua, yakni ”Si pemeluk agama BEBAS menjalankan apapun ajaran agamanya”, maka dimanakah kebebasan beragama yang dimaksud bagi ummat Islam ! Ketika ummat Islam diperintahkan Tuhannya untuk berhukum dengan Al-Qur-an, ketika ummat Islam diperintahkan Tuhannya untuk mengatur ekonomi dengan Syariah, ketika ummat Islam diperintahkan Tuhannya untuk mengatur sistem pergaulan dengan Islam, tidak sedikitpun definisi itu ada untuk ummat Islam..

Inilah HAM. Sungguh sebuah ide yang tidak memiliki konsep dan pandangan yang jelas. Bahkan kedok atas apa itu HAM semakin terbuka jika kita mau menilik kasus Ahmadiyah yang terjadi beberapa waktu silam.

Ingat bagaimana para pejuang dan aktivis HAM yang berkoar-koar membela dan memperjuangkan paham Ahmadiyah? dengan alasan : HAM, mereka bebas untuk beragama, mereka adalah kaum minoritas yang terzalimi dan harus dilindungi, dsb. Tapi apa suara mereka terhadap ummat Islam yang ajarannya telah dihinakan, dilecehkan bahkan dikotori oleh tindakan Ahmadiyah? Apa pembelaan mereka terhadap pembantaian yang terjadi pada ummat Islam di Iraq, Afganistan, Pakistan, Palestina? Dimana suara HAM mereka atas tindak penindasan yang terjadi pada minoritas muslim di China?

Kebohongan HAM atas kebebasan untuk menjalankan ajaran agama masing-masing semakin terlihat di bagian bumi yang lain. Perancis, muslimah yang ingin menutup aurat dengan sempurna, dilarang bahkan diancam akan ditangkap. Dengan alasan, memakai jilbab dan menutup aurat mengganggu ketertiban umum !

Akhirnya, dapat disimpulkan, HAM hanyalah sebuah ide yang penuh ketidak konsisten-an. Ia hanya sebuah alat yang ditanamkan oleh kaum liberal agar ummat Islam jauh dari ajaran agamanya yang sesungguhnya.

ISLAM : RAHMAT UNTUK SELURUH MANUSIA, MUSLIM MAUPUN NON-MUSLIM

Sangat bertolak belakang dengan konsep demokrasi dengan HAM-nya yang sangat inkonsistensi dan pada akhirnya hanya men-diskreditkan Islam bahkan meminoritaskan ummat Islam (padahal jumlahnya mayoritas), Islam dengan Syariah-Nya memiliki suatu konsep, tatanan serta standar yang jelas tentang perlakuan terhadap non-muslim yang berstatus warga negara daulah Islam, dan bersedia tunduk pada hukum yang berlaku, berikut beberapa gambarannya :

1. Warga non-muslim akan mendapat hak serta kewajiban yang sama dengan kaum muslim dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hak untuk mendapat penghidupan yang layak, hak dalam mendapat pelayanan dan fasilitas, hak pelayanan kesehatan, pendidikan, serta masih banyak lagi.

2. Tidak ada keistimewaan bagi individu-individu di depan hukum. Non-muslim juga akan memperoleh perlindungan serta keadilan hukum yang sama dengan warga muslim. Darah mereka sama dengan darah muslim yang wajib dilindungi dan haram ditumpahkan.
Hal ini bahkan ditegaskan Rasulullah dalam sabda beliau :
“Barangsiapa membunuh seseorang (kafir) yang sedang terikat perjanjian (mu’aahadah) yang telah mendapat perlindungan dari Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah melanggar perlindungan Allah—yakni mengkhianati perjanjian—dan dia tidak akan mencium baunya syurga, meskipun bau syurga dapat tercium dari jarak sejauh perjalanan yang lamanya 40 musim gugur.”

3. Non-muslim dibiarkan untuk tetap berpegang pada agamanya jika mereka mau. Serta beribadah sesuai ajaran agamanya masing-masing. Tidak ada paksaan bagi mereka untuk memasuki agama Islam.

4. Dalam hal makanan, minuman, maupun pakaian, mereka dipersilakan untuk tetap mengikuti ajarannya dengan berpatokan pada apa saja yang diperbolehkan syariah. Misal, dilarang berjualan minuman keras pada umum, ataupun wanitanya berpakaian membuka aurat di hadapan umum. Karena di dalam kehidupan umum selain konteks ibadah, semua warga negara wajib tunduk pada aturan Islam.

5. Warga non-muslim tidak wajib ikut berjihad sebagaimana warga muslim. Namun mereka tidak dilarang untuk berpartisipasi.

6. Warga non-muslim wajib membayar jizyah dan taat pada hukum Islam yang berlaku pada kehidupan umum, sebab itulah syarat agar mereka memperoleh perlindungan dan hal-hal yang di tulis di atas. Allah berfirman :
“hingga mereka menyerahkan jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (TQS. At-Taubah [9]: 29)
Ayat ini mengandung arti bahwa non-muslim akan memperoleh hak mereka jika mereka membayar jizyah dan taat pada hukum Islam yang berlaku.

***

Inilah gambaran umum bagaimana Islam akan memuliakan seluruh warganya termasuk non-muslim. Yang hal itu sangat kontras dengan perlakuan sistem kehidupan selain Islam. Wajarlah ratusan tahun silam, ketika Islam mengatur dunia, kaum yahudi yang tak memiliki tempat tinggal dan akhirnya menetap dalam daulah Khilafah, sangat merasa ”dimanusiakan”. Bahkan mereka menolak untuk keluar dari wilayah khilafah serta turut membela khilafah ketika warga muslim turun berjihad.

Inilah Islam. Ideologi mana yang bisa ’Me-manusiakan” manusia, selain Islam? Ideologi mana yang mampu menyatukan berbagai macam manusia dari berbagai latar belakang, suku maupun agama, selain Islam? Ideologi mana yang mampu menjaga keharmonisan dan kerukunan hidup antar-agama selama lebih dari 1000 tahun, selain Islam?

Sungguh sebuah hal yang sangat tidak wajar jika seorang muslim justru lebih memilih untuk menjunjung tinggi dan memperjuangkan ide HAM dan demokrasinya yang telah terbukti tidak memiliki sebuah konsep dan standar kebenaran yang jelas.

Dan sungguh sebuah pernyataan yang tiada punya dasar bahkan bukti jika Islam dikatakan sebagai pemecah belah dan hal yang harus ditakuti. Kini telah terbukti, sangatlah mengada-ngada mereka yang menolak Islam, dengan menggunakan alasan ini sebagai argumen.. Sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh ummat manusia.
”Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi sekalian alam” [Al-Anbiya : 107]

Wa iyyakum billah !

(Muhammad Amda Magyasa)
_Banjarmasin, 14 Juli 2009_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: