Menjadi Istimewa itu Sulit, tapi Kamu Pasti Bisa !

Tulisan ini bermula ketika aku dan dua temanku, (sebut saja “I” dan “M”) berkunjung ke sebuah rumah sakit yang cukup ternama di kota ini. Kedatangan kami bertiga kesana adalah untuk menjenguk salah seorang saudara yang dirawat di tempat itu (Ya ealah, masa ke rumah sakit mau kemping : )…). Sayang kami semua dilarang masuk (Bukan karena dikira pengemis loh !), rupanya saat itu bukan jam besuk untuk pasien.. Sehingga dengan perasaan sedikit kecewa, kami kembali menuju tempat parkir rumah sakit.. Ngambil motor.. bukan jadi tukang parkir : )

Am.. Am.. Favorit antum tuh..” Ujar akhi “M” sambil matanya menunjuk ke samping kirinya. ”Apa ?”, jawabku sambil menoleh kearah yang dimaksudnya. Seorang akhwat (perempuan) berkerudung biru muda langit tampak melintas berlawanan arah dari kami. Ia mengenakan baju kurung panjang dan longgar berwarna biru laut sehingga seluruh auratnya, mulai kepala hingga kaki tertutup. Tampaknya ia mau menjenguk seseorang (Ya ealah.. masa mau kemping juga : )… ).

IRONI NEGERI BERPENDUDUK MUSLIM

Sosok yang saya dan teman-teman saksikan pada kejadian di atas adalah seorang sosok yang cukup jarang ditemukan di lingkungan masyarakat kota-kota besar, termasuk kota tempat saya tinggal sekarang. Mereka adalah sosok-sosok minoritas yang jumlahnya terlampau kecil, bila dibandingkan dengan jumlah total wanita di negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini. Sosok yang dapat dengan mudah kita identifikasi bahwa dia adalah seorang muslimah.

Sayangnya, kebanyakan saat ini sangatlah sukar untuk membedakan antara muslimah dan perempuan bukan muslim. Mereka sama-sama menampakkan serta menggeraikan rambutnya, mereka sama-sama berpakaian minimalis atau paling tidak memakai pakaian yang kuetaaaaad bangeeed hingga nampak auratnya, mereka juga sama-sama memakai wewangian yang baunya menusuk hidung (ini nih yang gue paling kesel…), dan hal-hal semisalnya.

Bahkan terkadang saya mau ketawa sendiri jika mendengar ada orang yang bertanya pada perempuan yang tidak berkerudung :

Maaf, mbak muslim atau bukan ya?

Terus dijawab oleh si perempuan :

Iyaah.. Saya muslim koq, emang kenapaaah..?”

EMANG KENAPAAAH ?”, pertanyaan yang unik tuh mbak… Seorang muslimah telah diwajibkan oleh-Nya untuk menutup aurat. Lupakah bahwa Allah telah mewajibkan muslimah untuk mengenakan khimar (kerudung) hingga dada dan punggung? Atau lupakah bahwa Allah memerintahkan muslimah untuk memakai pakaian longgar yang menutupi seluruh lekuk tubuhnya (jilbab)? Atau pura-pura lupa? Atau.. atau.. atau.. hhh. Pake nanya lagi,,, ya wajarlah jika pertanyaan tersebut suatu saat bisa terlontar kepadamu, lha wong ga ada beda? Bagaimana orang mau mengenali kamu?

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Al-Ahzab : 59)

Ketika muslimah diwajibkan untuk memakai baju kurung panjang dan longgar (jilbab) hingga menutup seluruh auratnya, banyak yang lebih memilih pakaian mini atau paling tidak baju kaos dan celana yang meski panjang, tapi masih membentuk lekuk tubuhnya..

Ketika muslimah diwajibkan untuk mengenakan khimar (kerudung) hingga dada dan punggungnya, banyak yang lebih memilih untuk tidak mengenakannya sama sekali atau paling tidak melakukannya ”sekenanya” saja semisal kerudung yang tembus pandang, atau melilitkannya ke leher (hati-hati ke-cekik lho mbak..) alias di gulung-gulung (kaya rol aje.. hhe : )…).

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya….. (TQS. An-Nuur : 31)

Mirisnya,,, kewajiban ini, bahkan konsekuensi dari meninggalkannya, saya yakin ga ada yang ga tau. Sejak bangku SD, SMP, bahkan SMA, tidak mungkin satu kalipun tidak mendengar tentang kewajiban ini. Bohong, jika ada yang bilang tidak pernah di ajari tentang kewajiban ini. Namun seringkali kewajiban ini dengan mudahnya di ingkari dengan alasan-alasan yang sebenarnya sangat tidak layak digunakan seorang muslim.

Misal :

Duh.. gimana yaah, saya sih uda ngertos aja, tapi kayanya belum siap, masih nunggu hidayah dulu.. hhe”

>> Mau nunggu sampe rambut udah memutih mbak? Emang ada yang ngejamin punya umur sampe segitu? Emang ada yang ngebilangin kapan umurmu habis? Terus kalo ga tau batas umurmu, kenapa berani ditunda? : (

Atau yang lebih unik lagi, kaya gini :

Saya sih mending perbanyak shalat dulu, lha ngapain saya cape-cape pake kerudung kalo shalat saya masih bolong-bolong? Yang penting saya rajin shalat n akhlak baik, daripada berkerudung, berjilbab, tapi akhlak jelek? Weeee.. >_<”

>> Ini bukan masalah rajin shalat atau tidak, ini bukan masalah baik akhlak atau tidak. INI MASALAH KEWAJIBAN. Ga ada istilahnya satu kewajiban boleh ditinggalkan karena udah ngerjakan kewajiban yang lain. Aneh aja kalo ada orang yang bilang, ”Horee.. saya gak usah deh puasa lagi.. khan yang penting udah shalat^^”

KEMUNDURAN PEMIKIRAN

Sejak kapitalisme dan demokrasinya berdiri di dunia menggantikan kepemimpinan Islam, termasuk di Indonesia. Kaum muslim mengalami kemerosotan yang sangat parah. Baik dari segi akhlak maupun pemikirannya.

Indikasi itu bisa anda lihat sendiri, salah satunya dari mudahnya suatu kewajiban diremehkan. Kewajiban memakai aturan Allah diremehkan bahkan ditolak hanya karena alasan yang tak bisa dipertanggung jawabkan : INI BUKAN ZAMAN NABI LAGI-lah, ATAU INI ZAMAN MODERN-lah.. Termasuk mengenai penjelasan sebelumnya, bagaimana kaum perempuan yang dengan entengnya meremehkan kewajiban menutup aurat dengan sempurna.

Dijadikannya faham demokrasi dengan kebebasannya sebagai qiyadah fikriyah(kepemimpinan berfikir)nya, atau dengan kata lain dijadikan tuntunan dalam setiap langkah kehidupan, membuat masyarakat tidak lagi mengenal kata wajib maupun tidak wajib selain shalat dan sejenisnya. Kewajiban-kewajiban lain yang telah ditetapkan Allah dan telah lama terkubur oleh hitamnya peradaban barat, tidak lagi digubris. Akibatnya, banyak tindakan justru menjadikan peradaban barat sebagai kiblat.

***

Tiga buah pilar penegak Islam :

-Ketakwaan Individu

-Kontrol Masyarakat

-Campur Tangan dan Penerapan dari Negara

Keadaan ini tidak boleh terus dibiarkan. Harus ada upaya riil untuk mengembalikan pola berfikir Islam ketengah-tengah kehidupan masyarakat. Sebab hilangnya pola berfikir Islam inilah yang menjadi pangkal masalah hingga kewajiban-kewajiban dari-Nya begitu mudah diremehkan.

Memperbaiki ketakwaan individu adalah sangat penting. Oleh karenanya hal itu harus terus dilakukan. Akan tetapi perbaikan ketakwaan individu tanpa mewujudkan sebuah kondisi lingkungan yang kondusif untuk tumbuhnya pemikiran Islam, sangatlah riskan. Sebab iman seseorang adalah sesuatu yang sangat labil.

Karenanya, perwujudan kontrol masyarakat untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar juga sangatlah urgen (penting). Hal ini tentu memerlukan campur tangan negara untuk bisa mewujudkan kondisi masyarakat yang bertaqwa. Dan negara yang mampu mewujudkan masyarakat Islami, hanya negara yang mau menerapkan Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, bagaimana mungkin negara yang tidak berasaskan Islam, mau mewujudkan kehidupan Islami ?

Wa ma taufiqi billah !

(Muhammad Amda Magyasa)

_Banjarmasin, 10 Juli 2009_

NB : Berpaling dari akhwat berkerudung biru muda, terlihatlah sebuah keadaan yang sangat kontras di sebuah warung dekat parkiran rumah sakit.. Umma.. Umma..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: