Tentang saya

Namaku Muhammad Amda Magyasa, lahir di Malang 2 Oktober 1991. Anak pertama dari dua bersaudara. Kini aku berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Perjalanan hidupku dimasa lalu, tidaklah terlalu berbeda dengan kehidupan remaja pada umumnya. Terjebak pada fatamorgana indahnya kesenangan duniawi dan kehidupan santai sejenisnya. Lulus SMP dengan nilai ujian terbaik semakin membuatku merasa tidak ada yang salah dengan kehidupan yang santai seperti ini.

Memasuki bangku SMA, aktivitas keseharianku tidak jauh berbeda. Sekolah sejak pukul delapan pagi hingga pukul dua siang. Pulang sekolah berlanjut baca komik, nonton TV sambil ngemil, atau bermain game ke rumah teman. Sorenya berlanjut dengan sepakbola di lapangan. Yang terkadang tak jarang harus bentrok dengan anak-anak dari kampung lain. Hal ini terus berulang dari waktu ke waktu.

Untuk masalah keagamaan, setidaknya boleh dikatakan masih tidak terlalu buruk. Meski saat itu shalat masih bolong-bolong, tetapi aku tidak pernah terlibat narkoba maupun seks bebas. Bahkan setiap minggunya sejak masuk SMA, aku punya jadwal pengajian mingguan meski hanya satu-dua kali ku hadiri.

Memasuki akhir semester dua di bangku kelas satu SMA, aku mulai merasa tidak enak pada ustadz yang mengisi pengajian karena seringkali aku tidak hadir dan tidak menepati janji pertemuan dengan alasan-alasan yang dibuat-buat. Akhirnya kuputuskan akan secepatnya untuk berhenti ikut pengajian, karena kulihat, teman-temanku juga mulai berhenti dari aktivitas ini.

Sebuah SMS masuk dari temanku, Giat:

Aww, woi sgra ke msjd pljr

ad acr JM skrg, duhai masa kd ingat,.!

Kasi ksini..! dtunggu..

Smangat..!

4JJ AkBäR..!

Pdhi lg yg laen, blzlah !

(Translete: Aww, segera ke mesjid pelajar. Ada acara JM sekarang, duhai masa lupa ! Segera kesini..! ditunggu.. Semangat..! Allahu Akbar ! Beritau yang laen, balezlah !)

Aku kaget, rupanya aku masih ditunggu. Dan tampaknya tak ada perasaan jelek dari ustadz dan teman-temanku yang aktif di pengajian meskipun aku jarang sekali hadir. Tapi tetap saja saat itu aku tidak hadir.

Dukungan dari teman-teman terus mengalir, akhirnya ku coba untuk hadir sekali lagi.

Entahlah, kali ini ada yang berbeda. Sepulang dari pengajian itu, diri ini terus berfikir. Ada sesuatu yang hadir. Sesuatu yang membuat diri ini menilai hidup selama ini terasa gersang. Setiap hari hanya selalu membuang waktu untuk aktivitas mubah. Sia sia.

Hidup ini hanya sesaat, jadi apakah kita akan terus melakukan itu itu itu dan itu terus hingga mati?”. Pertanyaan ustadz itu membuatku berfikir, ya.. tidak selamanya kita menjadi anak kecil yang selalu berbuat sesuka hati. Tidak selamanya kita akan kita harus melakukan yang kita sukai semata. Jadi hidup ini untuk apa?

Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariat: 56)

Ya, jawaban itu terdengar jelas dan lugas.

Jawaban itu seolah menjadi sebuah air tawar di tengah kegersangan dan kejenuhan hidup yang kujalani. Aku menjadi rajin shalat, sejak itu tak lagi bolong-bolong. Aku jadi semakin sering ikut ngaji. Dan memahami bahwasanya dalam Islam, ibadah tak hanya terkunci pada masalah shalat semata ataupun rajin puasa.

Kematian pasti akan datang, sehingga yang perlu kita takutkan bukanlah kematian itu, akan tetapi dalam keadaan apa kita mati? Apakah kita telah menyiapkan bekal yang cukup? Ataukah belum? Bukankah kita tidak tahu kapan kematian akan menjemput? Lalu masihkah kita menunda-nunda untuk beramal?

Kata-kata itu semakin membuat diri ini tergerak memaksimalkan sisa hidup untuk menjalankan apapun perintahNya, dan menjauhi apapun laranganNya. Aku juga semakin tahu bagaimana kerusakan dan problem yang melanda masyarakat dan Dunia Islam. Dan juga dikenalkan bagaimana Islam memecahkan problematika hidup yang kini terjadi. Serta itu semua perlu gerakan bersama untuk mewujudkannya.

***

Melalui sebuah proses yang panjang, kini aku telah menjadi bagian dari orang-orang itu, Insya Allah.

Menjadi bagian dari orang-orang yang akan menggenggam panasnya bara Islam.

Menjadi bagian dari orang-orang yang tetap istiqamah mewujudkan janjiNya untuk mengembalikan Islam.

Aku tidak sendirian.

Bersama-sama mereka dan bersama-sama ummat akan kusambut seruanNya, dengan bersungguh-sungguh berjuang di jalanNya hingga akhir hayat.

Insya Allah,

Amin, amin, amin Ya Rabbal ’alamin..

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian. [Al-Anfal (8): 24]

Aku

2 Tanggapan to “Tentang saya”

  1. Ridwan Taufik Says:

    Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm….coba bandingin dengan masa lalu saya, haha! fIGHT BRO, CEPAT KONTRIBUT DI MAfahim center ya!!!!!

  2. Ya, ya..
    Ana bisa bayangkan..
    bagai labirin berliku,
    hhe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: